Sunday, December 21, 2025

Etika Rekayasa Berkelanjutan dan Strategi Implementasi Ekologi Industri

Materi Pembelajaran 15

Ringkasan

Materi ini mengintegrasikan dimensi moral dan strategis dalam praktik teknik industri. Pembahasan dimulai dengan etika rekayasa berkelanjutan sebagai fondasi nilai bagi seorang insinyur, yang mencakup tanggung jawab antargenerasi. Materi ini kemudian menyintesis seluruh topik sebelumnya (Sustainability, LCA, DfE, dan Simbiosis Industri) ke dalam satu kerangka implementasi yang utuh untuk sektor manufaktur dan jasa.

Fokus utama adalah pada bagaimana mengubah konsep teoritis menjadi strategi operasional di dunia nyata untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga integritas ekosistem.

Kata Kunci

Etika Rekayasa, Ekologi Industri, Keberlanjutan, Design for Environment (DfE), Strategi Manufaktur, Tanggung Jawab Sosial, Implementasi Strategis, Analisis Siklus Hidup (LCA).

I. Etika Rekayasa Berkelanjutan (Sustainable Engineering Ethics)

Etika rekayasa bukan sekadar mematuhi kode etik profesi, melainkan sebuah komitmen moral untuk memastikan bahwa inovasi teknik tidak merusak daya dukung bumi.

1.1 Prinsip Etika Insinyur dan Tanggung Jawab Lingkungan

Seorang insinyur memegang kunci terhadap penggunaan sumber daya. Prinsip etika utama meliputi:

  • Keamanan dan Kesejahteraan Publik: Menempatkan keselamatan manusia dan lingkungan di atas keuntungan finansial jangka pendek.
  • Prinsip Kehati-hatian (Precautionary Principle): Jika sebuah teknologi berpotensi merusak lingkungan secara ireversibel, maka tindakan pencegahan harus diambil meskipun bukti ilmiah belum sepenuhnya pasti.
  • Keadilan Antargenerasi: Insinyur memiliki tanggung jawab etis untuk tidak mewariskan kerusakan lingkungan atau kelangkaan sumber daya kepada generasi mendatang.

1.2 Dimensi Sosial dan Etika Global

Rekayasa berkelanjutan harus mempertimbangkan dampak sosial, termasuk kondisi kerja yang adil dalam rantai pasok dan distribusi manfaat teknologi yang merata (keadilan lingkungan).


II. Sintesis Topik: Menghubungkan Konsep ke Realitas

Ekologi industri adalah sebuah "payung" yang menaungi berbagai alat teknis. Berikut adalah keterkaitannya:

  1. Sustainability (Visi): Tujuan akhir yang ingin dicapai, yaitu keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial.
  2. LCA (Alat Diagnostik): Life Cycle Assessment digunakan untuk memetakan beban lingkungan di setiap tahap. Tanpa LCA, implementasi etika akan buta karena kita tidak tahu di mana dampak terbesar terjadi.
  3. DfE (Strategi Intervensi): Design for Environment adalah titik di mana etika diwujudkan dalam bentuk rancangan produk yang mudah didaur ulang dan hemat energi.
  4. Simbiosis Industri (Strategi Sistem): Mengintegrasikan satu pabrik ke dalam ekosistem yang lebih luas agar limbah tidak lagi menjadi beban, melainkan aset.

III. Strategi Implementasi di Industri Manufaktur dan Jasa

Implementasi ekologi industri membutuhkan transisi dari "Manajemen Limbah" (reaktif) ke "Produksi Bersih" (proaktif).

3.1 Sektor Manufaktur

  • Modernisasi Proses: Mengganti mesin tua dengan teknologi rendah karbon (efisiensi energi).
  • Sirkularitas Material: Mengadopsi model take-back scheme (produsen mengambil kembali produk lama untuk didaur ulang).
  • Optimasi Rantai Pasok Hijau: Menyeleksi pemasok berdasarkan kinerja lingkungan mereka.

3.2 Sektor Jasa

Ekologi industri dalam jasa sering disebut sebagai Product-Service Systems (PSS).

  • Dematerialisasi: Menjual "fungsi" daripada "produk". Contoh: Alih-alih menjual lampu, perusahaan menjual "layanan pencahayaan" (perusahaan jasa tetap memiliki lampu dan bertanggung jawab atas efisiensinya).
  • Digitalisasi: Menggunakan big data dan AI untuk mengoptimalkan rute logistik dan mengurangi emisi transportasi.

IV. Tantangan Penerapan di Dunia Nyata

Menerapkan etika dan strategi ini sering kali berbenturan dengan realitas pasar:

  • Hambatan Finansial: Biaya awal teknologi hijau seringkali lebih tinggi, meskipun lebih hemat dalam jangka panjang.
  • Budaya Organisasi: Resistensi terhadap perubahan dari metode konvensional.
  • Kekosongan Regulasi: Belum adanya insentif pajak yang kuat bagi perusahaan yang menerapkan ekologi industri secara penuh.

V. Kesimpulan

Implementasi ekologi industri bukanlah sekadar pilihan teknis, melainkan perwujudan dari etika rekayasa yang bertanggung jawab. Dengan mengintegrasikan instrumen seperti LCA dan DfE ke dalam strategi bisnis manufaktur dan jasa, industri dapat bertransformasi dari perusak menjadi pemulih ekosistem. Kunci utama keberhasilannya terletak pada kemampuan insinyur untuk melihat keterhubungan sistemik antara keputusan desain hari ini dengan kualitas hidup generasi masa depan. Etika adalah kompas yang memastikan bahwa inovasi industri tetap berada pada jalur yang benar menuju keberlanjutan sejati.

 

VI. Glosarium (20 Istilah)

  1. Accountability: Kewajiban individu atau organisasi untuk menjelaskan aktivitas mereka.
  2. Biodiversity Loss: Penurunan keanekaragaman hayati akibat aktivitas manusia.
  3. Corporate Social Responsibility (CSR): Model bisnis di mana perusahaan berupaya memberikan dampak positif bagi sosial dan lingkungan.
  4. Dematerialization: Pengurangan jumlah materi yang dibutuhkan untuk memenuhi fungsi tertentu.
  5. Design for Environment (DfE): Pendekatan desain untuk meminimalkan dampak lingkungan produk.
  6. Eco-Efficiency: Menciptakan lebih banyak barang dengan sumber daya yang lebih sedikit.
  7. Environmental Justice: Perlakuan adil terhadap semua orang dalam hal kebijakan lingkungan.
  8. Ethical Sourcing: Memastikan produk yang dibeli dipasok secara bertanggung jawab.
  9. Extended Producer Responsibility (EPR): Kebijakan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produk.
  10. Greenwashing: Praktik pemasaran yang menyesatkan tentang keramahan lingkungan suatu produk.
  11. Intergenerational Equity: Prinsip keadilan antar generasi.
  12. Interconnectedness: Kesadaran bahwa setiap tindakan dalam industri mempengaruhi sistem global.
  13. Life Cycle Thinking: Mempertimbangkan semua tahap kehidupan produk.
  14. Precautionary Principle: Pendekatan pencegahan terhadap risiko lingkungan.
  15. Product-Service System (PSS): Integrasi antara produk dan jasa dalam satu model bisnis.
  16. Stakeholder Engagement: Proses melibatkan pihak-hal terkait dalam pengambilan keputusan.
  17. Subsidiarity: Prinsip bahwa masalah harus diselesaikan pada tingkat lokal yang paling memungkinkan.
  18. Sustainable Engineering: Praktik rekayasa yang menggabungkan prinsip keberlanjutan.
  19. Triple Bottom Line: Kerangka akuntansi yang mencakup Profit, People, dan Planet.
  20. Upstream Impacts: Dampak lingkungan yang terjadi sebelum tahap manufaktur (ekstraksi bahan).

VII. Pertanyaan Pemantik (10)

  1. Apakah mungkin sebuah perusahaan menjadi 100% etis dalam ekonomi global saat ini?
  2. Siapa yang lebih bertanggung jawab atas sampah plastik: konsumen atau insinyur desain?
  3. Mengapa etika seringkali dianggap sebagai "beban" bagi daya saing industri?
  4. Bagaimana LCA membantu seorang insinyur membuat keputusan yang lebih etis?
  5. Dapatkah industri jasa memberikan kontribusi sebesar industri manufaktur dalam pelestarian lingkungan?
  6. Apa dampak moral jika seorang insinyur mengetahui pabriknya mencemari sungai namun tetap diam?
  7. Bagaimana digitalisasi dapat mempercepat transisi ke ekonomi sirkular?
  8. Mengapa pendidikan etika sangat krusial bagi mahasiswa teknik industri?
  9. Apakah keuntungan finansial dan kelestarian lingkungan selalu bertentangan?
  10. Bagaimana peran generasi muda dalam menuntut transparansi etika dari produsen?

VIII. Pertanyaan Reflektif (10)

  1. Jika Anda diminta mendesain produk yang murah namun merusak lingkungan, apa langkah yang akan Anda ambil?
  2. Bagaimana pandangan Anda tentang hak generasi mendatang terhadap sumber daya alam saat ini?
  3. Sejauh mana Anda merasa bertanggung jawab atas jejak karbon dari perangkat elektronik yang Anda gunakan?
  4. Apakah menurut Anda regulasi pemerintah lebih efektif daripada kesadaran etika individu?
  5. Bayangkan Anda adalah direktur keberlanjutan sebuah perusahaan; apa prioritas utama Anda di tahun pertama?
  6. Bagaimana perasaan Anda jika mengetahui produk yang Anda beli dibuat dengan mengeksploitasi pekerja di negara lain?
  7. Sejauh mana Anda bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang beretika?
  8. Apa warisan profesional yang ingin Anda tinggalkan sebagai seorang insinyur?
  9. Bagaimana Anda menyeimbangkan kebutuhan ekonomi keluarga dengan prinsip etika lingkungan di tempat kerja?
  10. Apakah teknologi selalu menjadi jawaban bagi masalah lingkungan, atau justru perilakulah yang utama?

 

IX. Daftar Pustaka

Buku Teks

Vesilind, P. A., & Gunn, A. S. (2010). Holdrege: Engineering, Ethics, and the Environment. Cambridge University Press.

  1. Allenby, B. R. (2011). Industrial Ecology: Sustainable Engineering and Biological Analogies. Prentice Hall.
  2. Fiksel, J. (2009). Design for Environment: A Guide to Sustainable Product Development. McGraw-Hill.
  3. Mulder, K. (2006). Sustainable Development for Engineers: A Toolkit. Greenleaf Publishing.
  4. Graedel, T. E., & Allenby, B. R. (2010). Industrial Ecology and Sustainable Engineering. Pearson.

Jurnal Internasional

  1. Manzini, E. (1994). "Design, environment and social quality: From 'existential' to 'strategic' design." Design Issues.
  2. Allenby, B. R. (1992). "Industrial ecology: The materials scientist in an environmentally constrained world." MRS Bulletin.
  3. Tukker, A., & Tischner, U. (2006). "Product-services as a research field: past, present and future." Journal of Cleaner Production.
  4. Bijker, W. E. (2007). "Sustainable engineering." Science, Technology, & Human Values.
  5. Ehrenfeld, J. R. (2004). "Can industrial ecology be the 'science of sustainability'?" Journal of Industrial Ecology.
  6. Despeisse, M., et al. (2012). "Uncovering strategies for industrial sustainability." Journal of Cleaner Production.
  7. Zhu, Q., & Cote, R. P. (2004). "Integrating green supply chain management into an eco-industrial park." Journal of Cleaner Production.
  8. Vandenbergh, M. P. (2007). "The new Wal-Mart effect: The quest for proprietary indirect environmental regulation." New York University Law Review.
  9. Lozano, R. (2012). "Towards better embedding sustainability into companies’ systems." Journal of Cleaner Production.
  10. Boyle, C., et al. (2010). "Sustainable engineering: from theory to practice." Sustainability.

 

Hashtag

#EtikaRekayasa #EngineeringEthics #EkologiIndustri #Keberlanjutan #SustainabilityStrategy #ManufakturHijau #LCA #DesignForEnvironment #EkonomiSirkular #TanggungJawabSosial #InsinyurIndonesia #GreenIndustry #IndustrialEcology #CleanerProduction #ClimateAction #SustainableDesign #SDGs #FutureEngineering #EcoEfficiency #EthicalBusiness

 

21 comments:

  1. Shelly Anastasya M (41624010011) A11

    Jawaban Pemantik
    1. Sulit 100% etis karena perbedaan regulasi global, namun dapat terus diupayakan.
    2. Tanggung jawab ada pada desain produk dan perilaku konsumen.
    3. Etika dianggap beban karena menambah biaya dan membatasi efisiensi jangka pendek.
    4. LCA membantu memilih desain dengan dampak lingkungan paling rendah.
    5. Ya, melalui efisiensi energi dan layanan ramah lingkungan.
    6. Diam berarti melanggar tanggung jawab moral dan profesional.
    7. Digitalisasi mempercepat pelacakan, efisiensi, dan daur ulang sumber daya.
    8. Karena insinyur industri berperan besar dalam keputusan berdampak luas.
    9. Tidak selalu, karena keberlanjutan dapat meningkatkan efisiensi jangka panjang.
    10. Generasi muda menekan produsen lewat konsumsi sadar dan advokasi digital.

    Jawaban Reflektif
    1. Mengusulkan alternatif desain atau material yang lebih ramah lingkungan.
    2. Generasi mendatang berhak atas sumber daya yang berkelanjutan.
    3. Bertanggung jawab dengan mengurangi penggunaan dan memperpanjang umur pakai.
    4. Regulasi dan etika individu sama-sama diperlukan.
    5. Fokus pada audit lingkungan dan efisiensi berkelanjutan.
    6. Merasa bersalah dan terdorong memilih produk beretika.
    7. Bersedia membayar lebih selama masih wajar.
    8. Menjadi insinyur yang efisien dan beretika.
    9. Menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan solusi kerja yang etis.
    10. Teknologi membantu, tetapi perubahan perilaku lebih menentukan.

    ReplyDelete
  2. A19
    Elza Yunita (41624010023)

    JAWABAN PERTANYAAN PEMANTIK:
    1. Kemungkinan 100% Etis: Secara teori mungkin, namun secara praktis sangat sulit karena kompleksitas rantai pasok global yang seringkali tidak transparan di tingkat bawah.
    2. Tanggung Jawab Sampah Plastik: Keduanya bertanggung jawab, namun insinyur desain memegang peran hulu untuk menciptakan sistem kemasan yang dapat didaur ulang atau terurai.
    3. Etika sebagai "Beban": Karena seringkali membutuhkan biaya investasi awal yang tinggi dan proses yang lebih lama, yang dianggap mengurangi margin keuntungan jangka pendek.
    4. Peran LCA: Memberikan data objektif mengenai dampak lingkungan dari awal hingga akhir produk, sehingga keputusan diambil berdasarkan bukti ilmiah, bukan asumsi.
    5. Industri Jasa vs Manufaktur: Ya, melalui pengelolaan logistik yang efisien, digitalisasi untuk mengurangi kertas/energi, dan pengaruh besar pada perilaku konsumen.
    6. Dampak Moral Insinyur: Pelanggaran integritas profesional, pengabaian kesejahteraan publik, dan beban rasa bersalah karena membiarkan kerusakan ekosistem yang permanen.
    7. Digitalisasi & Ekonomi Sirkular: Memungkinkan pelacakan material secara real-time (IoT) dan optimalisasi rantai pasok agar limbah dapat diproses kembali menjadi sumber daya.
    8. Pentingnya Pendidikan Etika: Agar mahasiswa teknik industri tidak hanya fokus pada efisiensi teknis, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dari sistem yang mereka bangun.
    9. Keuntungan vs Lingkungan: Tidak selalu. Dalam jangka panjang, efisiensi sumber daya dan citra merek yang baik justru meningkatkan keuntungan finansial.
    10. Peran Generasi Muda: Sebagai konsumen kritis yang menggunakan kekuatan media sosial dan daya beli untuk menuntut akuntabilitas serta transparansi dari produsen.

    JAWABAN PERTANYAAN REFLEKTIF:
    1. Produk Murah tapi Merusak: Saya akan melakukan riset alternatif material atau proses yang lebih ramah lingkungan namun tetap efisien, lalu mempresentasikannya kepada pimpinan sebagai nilai tambah jangka panjang.
    2. Hak Generasi Mendatang: Mereka memiliki hak yang sama dengan kita; menggunakan sumber daya secara berlebihan saat ini adalah bentuk pencurian terhadap masa depan mereka.
    3. Tanggung Jawab Jejak Karbon: Merasa cukup bertanggung jawab dengan cara memperpanjang usia pakai perangkat dan memastikan pembuangan limbah elektronik (e-waste) dilakukan dengan benar.
    4. Regulasi vs Kesadaran: Regulasi memberikan batasan minimal yang tegas, namun kesadaran etika individu adalah motor penggerak untuk inovasi yang melampaui standar hukum.
    5. Prioritas Direktur Keberlanjutan: Melakukan audit lingkungan menyeluruh dan menetapkan target pengurangan emisi serta limbah yang terukur (KPI hijau).
    6. Eksploitasi Pekerja: Merasa kecewa dan merasa bersalah secara tidak langsung; hal ini mendorong saya untuk lebih selektif dalam memilih merek.
    7. Membayar Lebih Mahal: Bersedia, sejauh kenaikan harga tersebut masuk akal dan ada bukti nyata bahwa premi tersebut digunakan untuk kesejahteraan pekerja atau lingkungan.
    8. Warisan Profesional: Dikenang sebagai insinyur yang menciptakan sistem yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan.
    9. Menyeimbangkan Ekonomi & Etika: Tetap mengedepankan prinsip etika; integritas profesional adalah aset yang jika rusak akan menghancurkan karier dan ekonomi keluarga dalam jangka panjang.
    10. Teknologi vs Perilaku: Teknologi adalah alat, namun perilaku manusia adalah penentunya. Tanpa perubahan perilaku, teknologi hanya akan memindahkan masalah ke tempat lain.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Nama : Taniatul Safitri
    NIM : 41624010029
    Kode Peserta: A22
    #Jawaban Pertanyaan Pemantik
    1. Sulit dicapai karena kompleksitas global, tapi bisa terus meningkat menuju "etis substansial" melalui transparansi dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Tanggung jawab bersama, namun insinyur/produsen lebih besar karena menentukan material dan sistem yang tersedia bagi konsumen.
    3. Karena fokus biaya jangka pendek. Padahal etika menguntungkan jangka panjang: loyalitas konsumen, mitigasi risiko, efisiensi operasional.
    4. Memberikan data objektif dampak lingkungan sepanjang siklus hidup, mengubah keputusan etis dari intuisi menjadi berbasis bukti.
    5. Ya, melalui pengaruh besar pada investasi, standar industri, dan perilaku konsumen, meski jejak langsung lebih kecil.
    6. Melanggar kewajiban profesional, menjadi complicit dalam kerusakan, mengkhianati kepercayaan publik. Perlu whistleblowing.
    7. Memfasilitasi tracking material, marketplace sekunder, platform sharing, AI untuk daur ulang, dan transparansi supply chain.
    8. Membentuk professional judgment untuk menyeimbangkan efisiensi dengan tanggung jawab sosial-lingkungan, tidak hanya kompetensi teknis.
    9. Tidak selalu bertentangan. Banyak kasus menunjukkan sinergi jangka panjang: efisiensi energi, brand value, circular economy, akses modal.
    10. Leverage melalui daya beli kolektif, aktivisme media sosial, boikot, dan ekspektasi tinggi yang memaksa transparansi korporat.

    #Jawaban Pertanyaan Reflektif
    1. Komunikasikan concern dengan data, usulkan alternatif. Jika tidak ada kompromi, pertimbangkan tidak terlibat demi integritas profesional.
    2. Mereka punya hak moral atas planet layak huni. Kita penjaga sementara, bukan pemilik absolut sumber daya.
    3. Bertanggung jawab dalam pilihan pembelian, penggunaan efisien, reparasi, dan pembuangan proper. Namun tanggung jawab juga sistemik.
    4. Keduanya perlu dan saling melengkapi. Regulasi ciptakan baseline, kesadaran etis dorong inovasi melampaui standar minimum.
    5. Baseline assessment, quick wins, strategi jangka panjang, governance structure, transformasi kultur organisasi.
    6. Merasa complicit, investigasi alternatif etis, pertimbangkan boikot, advokasi untuk mandatory disclosure.
    7. Prinsipnya ya, karena mencerminkan true cost. Tapi solusi jangka panjang: buat produk etis affordable untuk semua.
    8. Technical excellence + tanggung jawab sosial-lingkungan. Sistem berkelanjutan, mentoring etis, bukti bahwa profit dan sustainability bisa sejalan.
    9. Cari alignment bukan trade-off: employer sejalan nilai, advokasi dari dalam. Prioritas kebutuhan dasar sambil cari solusi jangka menengah.
    10. Keduanya esensial dan tidak terpisahkan. Perlu co-evolution: teknologi fasilitasi perilaku sustainable, perilaku dorong adopsi teknologi tepat.

    ReplyDelete
  5. Wisnu Prasetyo Aji
    (41624010010)
    A10

    Jawaban Pertanyaan Pemantik

    1. Saya akan mencari alternatif desain yang lebih ramah lingkungan atau menolak proyek tersebut.
    2. Generasi mendatang berhak atas sumber daya yang sama dan lingkungan yang layak.
    3. Saya cukup bertanggung jawab dan berusaha mengurangi serta memperpanjang umur pakai perangkat.
    4. Keduanya penting; regulasi memberi batas, etika memberi kesadaran jangka panjang.
    5. Menetapkan target pengurangan emisi dan rantai pasok yang beretika.
    6. Saya merasa tidak nyaman dan cenderung menghentikan pembelian.
    7. Selama masih masuk akal dan benar-benar berdampak.
    8. Kontribusi nyata pada teknologi yang bermanfaat dan berkelanjutan.
    9. Mencari solusi kompromi tanpa mengorbankan prinsip utama.
    10. Teknologi membantu, tetapi perubahan perilaku adalah kunci utama.

    Jawban Pertanyaan Reflektif

    1. Produk murah tapi merusak lingkungan: Menolak atau mengusulkan alternatif desain yang lebih berkelanjutan.
    2. Hak generasi mendatang: Mereka berhak atas sumber daya yang sama—kita hanya penjaga, bukan pemilik.
    3. Jejak karbon pribadi: Saya merasa ikut bertanggung jawab dan perlu menguranginya sebisa mungkin.
    4. Regulasi vs etika individu: Keduanya penting; regulasi memberi batas, etika memberi dorongan internal.
    5. Prioritas tahun pertama: Mengukur dampak lingkungan dan memperbaiki rantai pasok paling bermasalah.
    6. Produk hasil eksploitasi: Merasa tidak nyaman dan terdorong untuk berhenti membelinya.
    7. Membayar lebih mahal: Bersedia, selama harganya wajar dan dampaknya nyata.
    8. Warisan profesional: Solusi teknis yang bermanfaat tanpa merusak manusia dan alam.
    9. Ekonomi vs etika: Mencari kompromi, tapi tidak mengorbankan prinsip dasar.
    10. Teknologi vs perilaku: Teknologi membantu, tapi perubahan perilaku adalah kunci.

    ReplyDelete
  6. Arthamevia Pramuditha
    41624010027
    #Jawaban pertanyaan pemantik
    1. Tidak mudah bagi perusahaan untuk menjadi sepenuhnya etis dalam sistem ekonomi global, namun komitmen terhadap transparansi, perbaikan berkelanjutan, dan tanggung jawab sosial dapat mendekatkan perusahaan pada praktik yang lebih etis.
    2. Tanggung jawab terbesar berada pada produsen dan insinyur desain karena mereka menentukan material, bentuk produk, serta sistem pengelolaan akhir masa pakai, sementara konsumen hanya berperan sebagai pengguna.
    3. Etika sering dianggap sebagai beban karena membutuhkan investasi awal dan perubahan proses, meskipun dalam jangka panjang justru meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis.
    4. Life Cycle Assessment membantu pengambilan keputusan etis dengan memberikan gambaran menyeluruh tentang dampak lingkungan produk dari tahap ekstraksi hingga pembuangan.
    5. Industri jasa mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian lingkungan melalui digitalisasi, efisiensi energi, dan pengurangan penggunaan material fisik.
    6. Sikap diam seorang insinyur terhadap pencemaran merupakan pelanggaran tanggung jawab profesional dan dapat memperburuk dampak lingkungan serta risiko kesehatan masyarakat.
    7. Digitalisasi memungkinkan optimalisasi rantai pasok, pemantauan penggunaan sumber daya, dan pengurangan limbah secara sistematis dalam ekonomi sirkular.
    8. Pendidikan etika penting bagi mahasiswa teknik industri karena mereka akan terlibat langsung dalam keputusan strategis yang berdampak luas pada lingkungan dan masyarakat.
    9. Keuntungan finansial dan kelestarian lingkungan tidak selalu bertentangan, karena efisiensi sumber daya sering kali menghasilkan penghematan biaya jangka panjang.
    10. Generasi muda berperan penting dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas perusahaan melalui pilihan konsumsi sadar dan tekanan sosial.

    #Jawaban pertanyaan reflektif
    1. Saya akan menyampaikan risiko lingkungan kepada pihak manajemen dan mengusulkan alternatif desain atau material yang lebih ramah lingkungan.
    2. Generasi mendatang memiliki hak yang setara atas sumber daya alam sehingga penggunaannya saat ini harus dibatasi dan dikelola secara bertanggung jawab.
    3. Saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengurangi jejak karbon pribadi melalui penggunaan produk yang efisien dan berumur panjang.
    4. Regulasi pemerintah memberikan batas minimum, sedangkan kesadaran etika individu mendorong praktik keberlanjutan yang lebih konsisten dan mendalam.
    5. Prioritas utama adalah mengukur dampak lingkungan perusahaan secara menyeluruh dan menetapkan target pengurangan emisi yang realistis.
    6. Mengetahui adanya eksploitasi tenaga kerja menimbulkan dilema moral dan mendorong saya untuk mencari alternatif produk yang lebih etis.
    7. Saya bersedia membayar lebih mahal selama terdapat transparansi dan bukti nyata bahwa produk tersebut berkelanjutan.
    8. Saya ingin meninggalkan warisan sebagai insinyur yang mampu mengintegrasikan inovasi teknis dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
    9. Keseimbangan dapat dicapai dengan mencari solusi teknis yang efisien sehingga kebutuhan ekonomi terpenuhi tanpa mengorbankan lingkungan.
    10. Teknologi berperan sebagai alat pendukung, namun perubahan perilaku manusia tetap menjadi faktor utama dalam penyelesaian masalah lingkungan.

    ReplyDelete
  7. Hafidzh Maulana Ikhsan ( 41624010024 ) A20

    Pertanyaan Pemantik

    1. Tidak sepenuhnya mungkin, karena kompleksitas rantai pasok global, namun perusahaan dapat mendekati etika ideal melalui transparansi, kepatuhan, dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Keduanya bertanggung jawab, tetapi insinyur desain memiliki peran lebih besar karena menentukan material, kemasan, dan kemudahan daur ulang produk.
    3. Karena etika sering dikaitkan dengan peningkatan biaya produksi dan pengurangan keuntungan jangka pendek, meskipun manfaat jangka panjangnya besar.
    4. LCA membantu insinyur menilai dampak lingkungan produk dari bahan baku hingga akhir masa pakai sehingga keputusan menjadi lebih bertanggung jawab.
    5. Ya, industri jasa dapat berkontribusi melalui efisiensi energi, digitalisasi proses, dan pengurangan limbah operasional.
    6. Insinyur tersebut ikut memikul tanggung jawab moral karena memilih diam meskipun mengetahui adanya kerusakan lingkungan.
    7. Digitalisasi mempercepat ekonomi sirkular dengan meningkatkan efisiensi, pemantauan, dan pengelolaan siklus hidup produk.
    8. Karena mahasiswa teknik industri akan mengambil keputusan strategis yang berdampak besar pada manusia, sistem, dan lingkungan.
    9. Tidak selalu bertentangan, karena banyak praktik ramah lingkungan justru meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis.
    10. Generasi muda berperan sebagai konsumen kritis dan agen perubahan yang menuntut transparansi dan etika produsen.

    Pertanyaan Reflektif

    1. Saya akan mengusulkan alternatif desain yang lebih ramah lingkungan serta menjelaskan risiko jangka panjang dari desain yang merusak lingkungan.
    2. Generasi mendatang memiliki hak moral atas sumber daya alam yang harus dijaga sejak sekarang.
    3. Saya merasa tetap bertanggung jawab karena penggunaan perangkat elektronik berkontribusi pada jejak karbon global.
    4. Regulasi pemerintah penting, namun kesadaran etika individu tetap menjadi fondasi utama.
    5. Prioritas utama saya adalah membangun sistem keberlanjutan dan budaya perusahaan yang bertanggung jawab.
    6. Saya akan merasa tidak nyaman dan terdorong untuk lebih selektif dalam memilih produk.
    7. Saya bersedia membayar lebih mahal selama harga tersebut masih wajar dan transparan.
    8. Saya ingin meninggalkan warisan sebagai insinyur yang berintegritas dan peduli keberlanjutan.
    9. Saya menyeimbangkannya dengan mencari solusi kerja yang tetap etis tanpa mengorbankan kebutuhan ekonomi.
    10. Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku manusia tetap menjadi kunci utama.

    ReplyDelete
  8. Ali Haidar
    A07
    41624010003

    VII. Pertanyaan Pemantik
    1. Tidak. Selama rantai pasok global melibatkan eksploitasi tenaga kerja, sumber daya, dan ketimpangan regulasi, 100% etis itu ilusi—yang realistis adalah less harmful.
    2. Insinyur desain lebih besar tanggung jawabnya. Konsumen hanya memilih dari opsi yang disediakan; desain menentukan apakah sampah itu tak terhindarkan atau bisa dicegah.
    3. Karena etika sering berarti biaya tambahan dan keputusan sulit. Industri jangka pendek benci apa pun yang menekan margin.
    4. LCA memaksa insinyur melihat dampak total, bukan cuma biaya awal. Itu menghancurkan alasan “kami tidak tahu dampaknya”.
    5. Bisa, tapi sering malas. Industri jasa punya jejak energi, data, dan transportasi—hanya saja dampaknya kurang terlihat.
    6. Itu kelalaian moral. Diam berarti ikut bertanggung jawab, apa pun alasan birokratisnya.
    7. Dengan transparansi data dan efisiensi aliran material. Tanpa digitalisasi, ekonomi sirkular cuma slogan.
    8. Karena insinyur memegang keputusan sistemik. Tanpa etika, mereka hanya jadi operator kerusakan berskala besar.
    9. Tidak selalu. Yang bertentangan itu keuntungan cepat vs keberlanjutan jangka panjang—dan industri sering memilih yang salah.
    10. Dengan tekanan publik dan konsumsi sadar. Generasi muda punya suara, tapi sering malas memakainya.



    VIII. Pertanyaan Reflektif
    1. Saya akan menolak atau mengusulkan alternatif. Jika tetap dipaksa, saya sadar itu kompromi moral—dan itu pilihan sadar, bukan kecelakaan.
    2. Mereka punya hak, tapi kita terus merampoknya. Fakta pahit: kita hidup dari utang ekologis.
    3. Saya ikut bertanggung jawab. Mengabaikannya cuma bentuk pembenaran diri.
    4. Regulasi lebih efektif. Etika individu penting, tapi tanpa sistem, itu lemah dan tidak konsisten.
    5. Audit dampak nyata, bukan greenwashing. Data dulu, pencitraan belakangan.
    6. Tidak nyaman dan bersalah. Kalau tetap beli tanpa peduli, itu kemunafikan.
    7. Sebatas kemampuan, tapi dengan sadar. Mengaku peduli tapi selalu pilih yang paling murah itu bohong pada diri sendiri.
    8. Insinyur yang mengurangi dampak, bukan cuma menaikkan output. Output tanpa tanggung jawab itu warisan buruk.
    9. Dengan batas jelas. Jika pekerjaan melanggar nilai inti, cari jalan keluar—alasan keluarga sering dipakai untuk pembenaran.
    10. Perilaku lebih menentukan. Teknologi tanpa perubahan perilaku hanya mempercepat kerusakan dengan cara baru.

    ReplyDelete
  9. A12
    Qhobid Casio (41624010012)

    VII. Jawaban Pertanyaan Pemantik

    1. Perusahaan sangat sulit menjadi 100% etis dalam ekonomi global karena kompleksitas rantai pasok, perbedaan regulasi antarnegara, dan tekanan pasar. Namun, perusahaan tetap dapat mendekati kondisi etis ideal melalui transparansi, kepatuhan hukum, dan komitmen keberlanjutan.

    2. Tanggung jawab atas sampah plastik bersifat bersama, tetapi insinyur desain dan produsen memiliki peran lebih besar karena menentukan material dan desain produk sejak awal, sementara konsumen berperan dalam penggunaan dan pembuangan.

    3. Etika sering dianggap sebagai beban karena dipersepsikan meningkatkan biaya produksi dan menurunkan daya saing jangka pendek. Padahal, secara jangka panjang etika justru meningkatkan kepercayaan, reputasi, dan keberlanjutan bisnis.

    4. LCA membantu insinyur dengan menyediakan data dampak lingkungan sepanjang siklus hidup produk sehingga keputusan desain, material, dan proses produksi dapat dipilih secara lebih bertanggung jawab dan etis.

    5. Industri jasa dapat memberikan kontribusi besar melalui efisiensi energi, digitalisasi, pengurangan limbah, serta pengaruh tidak langsung terhadap perilaku konsumen dan sistem ekonomi.

    6. Secara moral, insinyur yang mengetahui pencemaran tetapi memilih diam ikut bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan melanggar kode etik profesi yang mengutamakan keselamatan publik.

    7. Digitalisasi memungkinkan pelacakan material, efisiensi proses, optimalisasi logistik, serta mendukung konsep daur ulang, guna ulang, dan ekonomi berbagi dalam ekonomi sirkular.

    8. Pendidikan etika penting agar mahasiswa teknik industri mampu mengambil keputusan yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

    9. Keuntungan finansial dan kelestarian lingkungan tidak selalu bertentangan karena praktik ramah lingkungan sering meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan memperkuat citra perusahaan.

    10. Generasi muda berperan melalui konsumsi kritis, tekanan sosial, penggunaan media digital, dan advokasi yang mendorong produsen bersikap transparan dan etis.

    VIII. Jawaban Pertanyaan Reflektif

    1. Saya akan mengusulkan alternatif desain atau material yang lebih ramah lingkungan serta menyampaikan dampak jangka panjang dari kerusakan lingkungan kepada pihak pengambil keputusan.

    2. Generasi mendatang memiliki hak moral atas sumber daya alam, sehingga pemanfaatan saat ini harus dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

    3. Saya merasa bertanggung jawab dengan cara menggunakan perangkat elektronik secara bijak, hemat energi, dan mendaur ulang sesuai prosedur.

    4. Regulasi pemerintah dan kesadaran etika individu sama-sama penting; regulasi menetapkan batas minimum, sementara kesadaran individu mendorong tanggung jawab yang lebih tinggi.

    5. Prioritas utama adalah melakukan audit keberlanjutan, mengurangi dampak lingkungan utama, serta membangun budaya perusahaan yang peduli terhadap keberlanjutan.

    6. Saya akan merasa bersalah dan terdorong untuk menghindari produk tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap keadilan sosial.

    7. Saya bersedia membayar lebih mahal selama perbedaannya wajar dan jelas digunakan untuk menjamin praktik yang etis dan ramah lingkungan.

    8. Saya ingin meninggalkan warisan sebagai insinyur yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

    9. Saya akan berusaha mencari solusi yang tetap menjaga prinsip etika lingkungan tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi, serta mengomunikasikannya secara profesional.

    10. Teknologi penting sebagai alat, tetapi perubahan perilaku manusia merupakan faktor utama dalam menyelesaikan masalah lingkungan secara berkelanjutan.

    ReplyDelete
  10. Ghania Nabila Rachmat
    41624010021

    VII. Jawaban Pertanyaan Pemantik

    1. 100% Etis: Secara praktis sangat sulit karena kompleksitas rantai pasok global yang gelap, namun perusahaan bisa mendekatinya melalui transparansi total dan audit berkala.

    2. Tanggung Jawab Sampah: Keduanya bertanggung jawab. Insinyur pada desain sistem (agar mudah didaur ulang), konsumen pada perilaku pasca-konsumsi (pembuangan yang benar).

    3. ⁠Etika sebagai "Beban": Karena seringkali membutuhkan biaya tambahan di awal (investasi teknologi bersih atau upah layak) yang secara jangka pendek terlihat mengurangi laba.

    4. Peran LCA: Membantu insinyur melihat dampak lingkungan secara kuantitatif dari awal hingga akhir produk, sehingga keputusan diambil berdasarkan data, bukan asumsi.

    5. Industri Jasa: Bisa. Lewat optimalisasi digital, efisiensi energi di pusat data, dan perancangan sistem logistik yang rendah emisi.

    6. Dampak Moral: Terjadi degradasi integritas profesional dan pelanggaran sumpah profesi yang berisiko merugikan kesehatan masyarakat luas.

    7. Digitalisasi: Memungkinkan pelacakan material secara real-time (Blockchain/IoT) sehingga siklus pakai-kembali (reuse) menjadi lebih efisien.

    8. Pendidikan Etika: Agar mahasiswa tidak hanya menjadi operator mesin yang cerdas, tetapi juga pengambil keputusan yang memiliki kompas moral demi keselamatan publik.

    9. Finansial vs Lingkungan: Tidak selalu. Efisiensi sumber daya (mengurangi limbah) seringkali justru menurunkan biaya produksi dalam jangka panjang.

    10. Peran Generasi Muda: Sebagai penggerak pasar; tuntutan mereka melalui media sosial dan pilihan belanja memaksa produsen untuk lebih transparan.

    VIII. Jawaban Pertanyaan Reflektif

    1. Langkah Desain: Saya akan mengusulkan value engineering untuk mencari material alternatif yang ramah lingkungan namun tetap terjangkau sebelum menyetujui desain yang merusak.

    2. Hak Generasi Mendatang: Mereka memiliki hak yang sama atas kualitas udara, air, dan tanah. Kita hanya "meminjam" sumber daya ini dari mereka.

    3. Tanggung Jawab Gadget: Sangat bertanggung jawab. Hal ini bisa diwujudkan dengan menggunakan perangkat lebih lama (tidak sering ganti) dan membuang limbah elektronik ke tempat khusus.

    4. Regulasi vs Kesadaran: Regulasi penting untuk memaksa (batas minimum), namun kesadaran etika adalah motor utama untuk inovasi yang melampaui aturan.

    5. Prioritas Direktur: Melakukan audit menyeluruh terhadap jejak karbon perusahaan dan menetapkan target pengurangan emisi yang realistis namun ambisius.

    6. Perasaan Eksploitasi: Kecewa dan merasa bersalah. Hal ini akan mendorong saya untuk berhenti membeli merek tersebut dan mencari alternatif yang memiliki sertifikasi Fair Trade.

    7. Bayar Lebih: Bersedia, selama kenaikan harga tersebut sebanding dengan jaminan bahwa pekerja dibayar layak dan lingkungan tidak dirusak.

    8. Warisan Profesional: Ingin dikenal sebagai insinyur yang menciptakan sistem yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi sosial dan lingkungan.

    9. Keseimbangan Ekonomi vs Etika: Mencoba mencari titik tengah melalui inovasi. Jika tetap bertentangan, integritas harus diutamakan karena reputasi moral sulit diperbaiki.

    10. Teknologi vs Perilaku: Teknologi hanyalah alat (enabler), namun perilaku manusia adalah penentu utama apakah teknologi tersebut akan menyelamatkan atau justru merusak bumi.

    ReplyDelete
  11. A05 - Rizki Juni Feraro (41623010046)

    VII. Jawaban Pertanyaan Pemantik
    1. Tidak sepenuhnya, karena rantai pasok global sangat kompleks, namun perusahaan tetap dapat mendekati etika maksimal melalui transparansi dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Keduanya bertanggung jawab, insinyur menentukan desain dan material, konsumen menentukan pola penggunaan dan pembuangan.
    3. Karena etika sering dianggap menambah biaya, memperlambat produksi, dan mengurangi margin keuntungan jangka pendek.
    4. LCA membantu insinyur melihat dampak lingkungan dari hulu ke hilir, sehingga keputusan desain lebih bertanggung jawab.
    5. Ya, industri jasa dapat berkontribusi besar melalui efisiensi energi, digitalisasi, dan pengurangan limbah operasional.
    6. Insinyur tersebut melanggar tanggung jawab moral dan profesional, serta berkontribusi pada kerugian sosial dan lingkungan.
    7. Digitalisasi memungkinkan pelacakan material, optimasi proses, dan desain ulang berbasis data untuk ekonomi sirkular.
    8. Karena keputusan teknis insinyur berdampak langsung pada manusia, lingkungan, dan masa depan industri.
    9. Tidak selalu, inovasi hijau justru dapat menciptakan efisiensi biaya dan keunggulan kompetitif jangka panjang.
    10. Generasi muda berperan melalui konsumen kritis, aktivisme digital, dan tekanan sosial terhadap transparansi perusahaan.

    VIII. Jawaban Pertanyaan Reflektif
    1. Saya akan mencari alternatif desain atau material yang lebih ramah lingkungan meski tetap terjangkau.
    2. Generasi mendatang memiliki hak moral atas sumber daya yang lestari, sehingga eksploitasi berlebihan tidak dibenarkan.
    3. Saya bertanggung jawab dengan menggunakan perangkat secara efisien dan memperpanjang umur pakainya.
    4. Regulasi penting, namun kesadaran etika individu membuat kepatuhan lebih berkelanjutan.
    5. Prioritas utama adalah audit dampak lingkungan dan perbaikan proses paling kritis.
    6. Saya akan merasa tidak nyaman dan bersalah, serta mempertimbangkan untuk menghentikan pembelian.
    7. Saya bersedia membayar lebih selama kenaikan harga masih rasional dan manfaat etisnya jelas.
    8. Warisan profesional saya adalah karya yang bermanfaat tanpa merusak lingkungan dan masyarakat.
    9. Saya berusaha mencari solusi kerja yang tetap etis tanpa mengorbankan kebutuhan dasar keluarga.
    10. Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku manusia tetap menjadi kunci utama keberlanjutan.

    ReplyDelete
  12. Muhammad Zhafran Zahran (A15)
    41624010019

    VII. Pertanyaan Pemantik

    1. Dalam praktiknya, menjadi 100% etis sangat sulit karena perusahaan beroperasi dalam sistem global yang kompleks, melibatkan rantai pasok lintas negara dengan standar sosial, lingkungan, dan hukum yang berbeda. Namun, perusahaan dapat mendekati etika ideal melalui komitmen keberlanjutan, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan.

    2. Tanggung jawab bersifat kolektif, namun insinyur desain memegang peran strategis karena menentukan material, umur produk, dan kemudahan daur ulang sejak tahap awal desain. Konsep extended producer responsibility (EPR) menegaskan hal ini.

    3. Karena etika sering diasosiasikan dengan biaya tambahan, seperti investasi teknologi ramah lingkungan dan kepatuhan regulasi. Padahal, dalam jangka panjang, etika justru meningkatkan reputasi, kepercayaan pasar, dan ketahanan bisnis.

    4. Life Cycle Assessment (LCA) memungkinkan insinyur melihat dampak lingkungan produk dari hulu ke hilir, sehingga keputusan desain tidak hanya berdasarkan biaya dan fungsi, tetapi juga dampak lingkungan dan sosial.

    5. Ya. Industri jasa berkontribusi melalui efisiensi energi digital, pengurangan perjalanan fisik, optimasi logistik, dan edukasi konsumen, meskipun dampaknya tidak selalu terlihat secara fisik.

    6. Diam berarti melanggar kode etik profesi, merusak kepercayaan publik, dan berpotensi menyebabkan kerugian lingkungan serta sosial yang lebih besar. Insinyur memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi kepentingan publik.

    7. Digitalisasi memungkinkan pelacakan material, optimasi proses, prediksi limbah, dan kolaborasi lintas sektor melalui data real-time, sehingga mempercepat transisi dari ekonomi linier ke sirkular.

    8. Karena insinyur tidak hanya membuat sistem efisien, tetapi juga berdampak langsung pada manusia dan lingkungan. Tanpa etika, efisiensi bisa berubah menjadi eksploitasi.

    9. Tidak selalu. Banyak studi menunjukkan bahwa efisiensi energi, minimisasi limbah, dan desain berkelanjutan justru menurunkan biaya operasional jangka panjang.

    10. Generasi muda berperan sebagai konsumen kritis, pekerja sadar etika, dan agen perubahan yang mendorong perusahaan lebih transparan melalui tekanan sosial dan pasar.


    VIII. Pertanyaan Reflektif

    1. Saya tidak akan langsung menolak, tapi saya akan mencoba mengusulkan alternatif desain yang lebih ramah lingkungan dengan biaya yang masih masuk akal. Jika tetap dipaksa, saya merasa perlu menyampaikan risiko jangka panjangnya secara profesional.

    2. Menurut saya, generasi mendatang punya hak penuh atas lingkungan yang layak, bukan sisa kerusakan dari keputusan kita sekarang. Karena itu, eksploitasi sumber daya seharusnya punya batas etis yang jelas.

    3. Saya merasa tetap punya tanggung jawab, meskipun skalanya kecil. Setidaknya saya bisa memperpanjang umur pakai perangkat dan tidak sering ganti hanya karena tren.

    4. Menurut saya, regulasi itu penting sebagai pagar, tapi tanpa kesadaran individu, aturan sering cuma jadi formalitas. Idealnya, dua-duanya jalan bareng.

    5. Prioritas saya adalah audit lingkungan dan transparansi data, supaya perusahaan tahu dulu masalahnya di mana sebelum bicara target besar.

    6. Jujur, saya akan merasa bersalah dan tidak nyaman. Walaupun sulit langsung berhenti konsumsi, setidaknya saya akan lebih selektif dan sadar.

    7. Saya bersedia membayar lebih selama selisih harganya masih rasional dan klaim etikanya jelas, bukan sekadar gimmick marketing.

    8. Saya ingin dikenal sebagai insinyur yang bukan cuma mikir efisiensi, tapi juga dampak sosial dan lingkungan dari sistem yang saya buat.

    9. Saya realistis bahwa kebutuhan ekonomi itu nyata, tapi saya tetap berusaha tidak menutup mata terhadap dampak lingkungan dan mendorong perbaikan sebisa mungkin dari dalam.

    10. Menurut saya, teknologi itu penting, tapi tanpa perubahan perilaku manusia, teknologi cuma jadi alat yang tidak optimal. Perilaku tetap kunci utamanya.

    ReplyDelete
  13. Ardhayya Muhammad Shiddiq ( 41624010017)
    Kode Peserta: A14

    Jawaban Pertanyaan Pemantik :
    1. Hampir tidak mungkin, karena rantai pasok sangat kompleks. Namun, perusahaan bisa mendekati etis dengan transparansi, tanggung jawab sosial, dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Konsumen dan insinyur sama-sama berperan, namun desainer memiliki pengaruh lebih besar karena menentukan pilihan material.
    3. Karena membutuhkan biaya dan aturan tambahan, meski sebenarnya bermanfaat dalam jangka panjang.
    4. Membantu melihat dampak produk dari awal hingga akhir, sehingga keputusan desain lebih ramah lingkungan.
    5. Bisa, melalui penghematan energi, digitalisasi, dan pengurangan penggunaan sumber daya.
    6. Itu pelanggaran moral karena membiarkan kerusakan lingkungan dan risiko bagi masyarakat.
    7. Teknologi mempermudah pelacakan bahan, perbaikan, dan daur ulang produk.
    8. Karena keputusan mereka kelak memengaruhi manusia, proses industri, dan lingkungan.
    9. Tidak selalu — banyak solusi ramah lingkungan justru menghemat biaya.
    10. Menekan produsen lewat pilihan konsumsi, suara publik, dan tuntutan transparansi.

    Jawaban Pertanyaan Reflektif:
    1. Menolak atau menawarkan alternatif yang lebih bertanggung jawab.
    2. Mereka berhak atas lingkungan layak, sehingga kita wajib memakai sumber daya secara bijak.
    3. Kita bertanggung jawab melalui penggunaan bijak, perawatan, dan pembuangan yang benar agar tidak menambah polusi.
    4. Keduanya saling melengkapi: regulasi memberi batasan, sedangkan etika pribadi memastikan kita bertindak secara sadar dan bermoral.
    5. Mengukur jejak lingkungan perusahaan, menetapkan target pengurangan emisi, serta membangun budaya kerja yang peduli etika.
    6. Tidak nyaman dan mendorong memilih produk yang lebih adil.
    7. Bersedia jika manfaatnya jelas dan sesuai kemampuan.
    8. Ingin dikenang sebagai profesional yang membawa dampak baik.
    9. Ambil keputusan realistis tapi tetap menjaga tanggung jawab.
    10. Keduanya penting, namun perubahan perilaku sering lebih menentukan.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Adjie Nugroho
    41624010020
    A16

    VII. Jawaban Pertanyaan Pemantik

    1. Sulit mencapai 100% etis karena kompleksitas ekonomi global, namun perusahaan dapat terus mendekatinya melalui transparansi dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Tanggung jawab bersifat bersama: insinyur pada desain produk, konsumen pada pola penggunaan dan pembuangan.
    3. Karena etika sering dianggap meningkatkan biaya jangka pendek meskipun memberi manfaat jangka panjang.
    4. Dengan menunjukkan dampak lingkungan produk secara menyeluruh sehingga keputusan desain lebih bertanggung jawab.
    5. Bisa, melalui efisiensi energi, digitalisasi, dan pengurangan konsumsi sumber daya tidak langsung.
    6. Menimbulkan pelanggaran etika profesional serta risiko sosial, hukum, dan kerusakan lingkungan.
    7. Melalui optimalisasi proses, pelacakan material, dan peningkatan efisiensi daur ulang.
    8. Karena keputusan teknik memiliki dampak nyata pada manusia, lingkungan, dan masyarakat.
    9. Tidak selalu; praktik berkelanjutan dapat meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomi jangka panjang.
    10. Dengan menekan produsen melalui pilihan konsumsi, kampanye digital, dan tuntutan transparansi.

    VIII. Jawaban Pertanyaan Reflektif

    1. Mengusulkan alternatif desain yang lebih ramah lingkungan atau menyampaikan risiko etis secara profesional.
    2. Generasi mendatang berhak atas lingkungan dan sumber daya yang layak sehingga eksploitasi harus dibatasi.
    3. Bertanggung jawab secara moral untuk menggunakan perangkat secara bijak dan memperpanjang umur pakainya.
    4. Regulasi penting sebagai batas minimum, sementara kesadaran individu memperkuat dampak jangka panjang.
    5. Melakukan audit lingkungan, menetapkan target pengurangan emisi, dan meningkatkan transparansi.
    6. Muncul konflik moral dan dorongan untuk mengubah pola konsumsi.
    7. Bersedia membayar lebih selama harga masih wajar dan dampak positifnya jelas.
    8. Menghasilkan keputusan teknik yang bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat.
    9. Dengan mencari solusi efisiensi yang tidak mengorbankan prinsip etika lingkungan.
    10. Teknologi dan perilaku harus berjalan bersama untuk menyelesaikan masalah lingkungan.

    ReplyDelete
  15. Reza Aldiansyah (41623010019)
    Kode Peserta (A02)

    10 Jawaban Soal Pemantik

    1. Tidak sepenuhnya, tetapi perusahaan dapat mendekati etika maksimal melalui kepatuhan, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Keduanya, konsumen bertanggung jawab dalam penggunaan dan pembuangan, insinyur dalam desain produk yang ramah lingkungan.
    3. Karena etika sering dipersepsikan menambah biaya dan memperlambat proses produksi.
    4. LCA membantu menilai dampak lingkungan sepanjang siklus hidup produk, sehingga keputusan lebih bertanggung jawab.
    5. Ya, melalui efisiensi energi, pengurangan limbah digital, dan praktik operasional berkelanjutan.
    6. Insinyur tersebut melanggar tanggung jawab moral dan profesional karena membiarkan kerusakan lingkungan terjadi.
    7. Digitalisasi memungkinkan pelacakan material, optimasi sumber daya, dan model bisnis sirkular.
    8. Karena insinyur membuat keputusan teknis yang berdampak langsung pada manusia dan lingkungan.
    9. Tidak selalu, banyak praktik berkelanjutan justru meningkatkan efisiensi dan reputasi jangka panjang.
    10. Generasi muda dapat menekan produsen melalui pilihan konsumsi, media sosial, dan advokasi publik.

    10 Jawaban Soal Reflektif

    1. Saya akan mencari alternatif desain yang lebih ramah lingkungan atau menyampaikan risikonya kepada pengambil keputusan.
    2. Generasi mendatang berhak atas sumber daya yang layak, sehingga pemanfaatan saat ini harus dibatasi dan bertanggung jawab.
    3. Saya bertanggung jawab secara tidak langsung dan dapat menguranginya melalui penggunaan bijak dan daur ulang.
    4. Keduanya saling melengkapi regulasi memberi batas, etika individu memberi kesadaran.
    5. Mengukur dampak lingkungan (baseline) dan menyusun strategi pengurangan emisi serta limbah.
    6. Saya akan merasa tidak nyaman dan bersalah, serta mempertimbangkan untuk berhenti membeli produk tersebut.
    7. Saya bersedia membayar lebih mahal dalam batas wajar.
    8. Menjadi insinyur yang berintegritas dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
    9. Dengan mencari solusi kerja yang tetap etis tanpa mengorbankan kebutuhan dasar keluarga.
    10. Keduanya penting, tetapi perubahan perilaku manusia adalah kunci utama.

    ReplyDelete
  16. Bima Ghritrif Aldrajat A03

    Pertanyaan Pemantik
    1. Hampir tidak mungkin 100% etis karena kompleksitas rantai pasok global, tetapi perusahaan dapat mendekatinya melalui transparansi, audit, dan komitmen ESG.
    2. Tanggung jawab ada pada keduanya, namun insinyur desain memiliki peran lebih besar karena menentukan material, umur pakai, dan potensi daur ulang sejak tahap perancangan.
    3. Karena etika sering dipandang menambah biaya dan memperlambat proses, sementara manfaatnya bersifat jangka panjang dan tidak selalu terlihat langsung.
    4. LCA membantu melihat dampak lingkungan dari hulu ke hilir sehingga keputusan tidak hanya berbasis biaya, tetapi juga dampak lingkungan total.
    5. Ya, melalui efisiensi energi, digitalisasi, pengurangan limbah operasional, dan penerapan green management.
    6. Insinyur tersebut memiliki tanggung jawab moral karena memilih diam berarti membiarkan kerusakan lingkungan terus terjadi.
    7. Digitalisasi memungkinkan pelacakan material, optimalisasi penggunaan sumber daya, dan mendukung sistem ekonomi sirkular berbasis data.
    8. Karena insinyur industri merancang sistem yang berdampak luas pada manusia, lingkungan, dan ekonomi, bukan sekadar aspek teknis.
    9. Tidak selalu; efisiensi lingkungan sering kali menurunkan biaya operasional dan meningkatkan daya saing jangka panjang.
    10. Melalui konsumsi kritis, tekanan publik, dan tuntutan transparansi terhadap proses produksi dan rantai pasok.

    Pertanyaan Reflektif
    1. Mencari alternatif desain yang lebih ramah lingkungan, menyampaikan risiko secara profesional, dan mengusulkan solusi kompromi.
    2. Generasi mendatang memiliki hak moral atas sumber daya alam, sehingga eksploitasi saat ini harus dibatasi secara bertanggung jawab.
    3. Bertanggung jawab untuk mengurangi dampak melalui penggunaan bijak, memperpanjang umur pakai, dan memilih produk yang lebih berkelanjutan.
    4. Regulasi lebih efektif sebagai dasar wajib, tetapi kesadaran individu menentukan keberlanjutan dalam jangka panjang.
    5. Membangun transparansi data lingkungan, melakukan audit awal, dan menargetkan efisiensi energi sebagai langkah cepat.
    6. Menimbulkan dilema moral dan mendorong perubahan perilaku konsumsi serta sikap kritis terhadap produsen.
    7. Bersedia membayar lebih selama manfaat etis dan lingkungannya jelas serta dapat diverifikasi.
    8. Meninggalkan sistem kerja yang efisien, berkelanjutan, dan tidak merugikan manusia maupun lingkungan.
    9. Menyeimbangkannya dengan mendorong perbaikan sistem internal tanpa sepenuhnya mengorbankan prinsip etika.
    10. Teknologi hanyalah alat; perubahan perilaku manusia adalah faktor penentu utama keberhasilan solusi lingkungan.

    ReplyDelete
  17. Ibnu Sabil (A01)
    (41623010006)

    (Pemantik)
    1. Sulit, tetapi perusahaan bisa mendekati sangat etis dengan komitmen kuat dan transparansi.
    2. Keduanya bertanggung jawab, namun insinyur punya peran besar dalam menentukan desain yang ramah lingkungan.
    3. Karena etika sering dianggap menambah biaya dan memperlambat produksi.
    4. LCA menunjukkan dampak lingkungan sehingga insinyur bisa memilih opsi yang paling minim dampak.
    5. Bisa, melalui efisiensi energi, digitalisasi, dan pengurangan limbah operasional.
    6. Itu merupakan kelalaian moral karena membiarkan kerugian pada masyarakat dan lingkungan.
    7. Dengan pelacakan material, optimasi proses, dan sistem daur ulang berbasis data.
    8. Agar lulusan tidak hanya efisien, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
    9. Tidak selalu, banyak praktik hijau justru menurunkan biaya jangka panjang.
    10. Melalui konsumsi kritis, kampanye digital, dan tekanan pasar terhadap merek.

    (Reflektif)
    1. Mencari alternatif desain yang lebih ramah atau menyampaikan risiko pada manajemen.
    2. Generasi mendatang berhak atas lingkungan yang layak dan sumber daya yang cukup.
    3. Cukup besar, karena konsumsi pribadi berkontribusi pada emisi global.
    4. Keduanya penting, regulasi memberi batas, etika memberi kesadaran.
    5. Mengurangi emisi, limbah, dan meningkatkan transparansi rantai pasok.
    6. Merasa bersalah dan terdorong untuk mencari produk yang lebih beretika.
    7. Selama masih terjangkau dan manfaatnya jelas.
    8. Menciptakan solusi yang bermanfaat tanpa merusak lingkungan dan masyarakat.
    9. Dengan memilih solusi yang tidak merugikan besar meski mungkin lebih sulit.
    10. Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku tetap kunci utama.

    ReplyDelete
  18. Mahardika dwi atmaja (41624010005)
    A08

    Pertanyaan Pemantik
    1. Etis 100%: Sulit karena rantai pasok global sangat kompleks, namun perusahaan bisa mendekatinya melalui transparansi total.

    2. Tanggung Jawab Sampah: Keduanya bertanggung jawab; desainer pada siklus hidup produk, konsumen pada pengelolaan pasca-pakai.

    3. Beban Daya Saing: Karena standar etika seringkali membutuhkan biaya investasi awal yang lebih tinggi dibanding praktik eksploitatif.

    4. Peran LCA: Memberikan data kuantitatif dampak lingkungan dari awal hingga akhir, sehingga keputusan didasarkan pada fakta, bukan asumsi.

    5. Kontribusi Industri Jasa: Bisa, melalui efisiensi energi, digitalisasi untuk mengurangi kertas, dan edukasi keberlanjutan.

    6. Dampak Moral: Terjadi degradasi integritas profesional dan pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat serta sumpah profesi.

    7. Digitalisasi & Ekonomi Sirkular: Mempermudah pelacakan material (material tracing) dan optimalisasi logistik sirkular secara real-time.

    8. Pendidikan Etika: Krusial agar insinyur tidak hanya ahli teknis, tetapi juga memiliki kompas moral dalam mengambil keputusan yang berdampak luas.

    9. Keuangan vs Lingkungan: Tidak selalu; praktik efisiensi energi dan sirkularitas justru dapat menekan biaya operasional jangka panjang.

    10. Peran Generasi Muda: Sebagai konsumen kritis yang menggunakan daya beli dan suara di media sosial untuk menuntut akuntabilitas produsen.

    II. Pertanyaan Reflektif
    1. Desain Produk Murah/Merusak: Menolak atau mengusulkan alternatif desain yang lebih ramah lingkungan namun tetap efisien secara biaya.

    2. Hak Generasi Mendatang: Mereka memiliki hak yang sama atas sumber daya alam; kita hanya "meminjamnya" dari mereka.

    3. Tanggung Jawab Jejak Karbon: Merasa bertanggung jawab dengan cara memperpanjang usia pakai perangkat dan mendaur ulangnya dengan benar.

    4. Regulasi vs Kesadaran: Regulasi menciptakan standar minimum yang wajib, namun kesadaran individu menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

    5. Prioritas Direktur Keberlanjutan: Melakukan audit menyeluruh terhadap jejak karbon perusahaan dan menetapkan target pengurangan yang terukur.

    6. Perasaan Produk Eksploitatif: Merasa bersalah dan kecewa, serta akan beralih ke merek yang memiliki sertifikasi fair trade.

    7. Membayar Lebih Mahal: Bersedia, selama kenaikan harga tersebut sebanding dengan transparansi dan dampak positif yang dihasilkan.

    8. Warisan Profesional: Ingin diingat sebagai insinyur yang menciptakan solusi teknis tanpa mengorbankan integritas dan lingkungan.

    9. Menyeimbangkan Ekonomi & Etika: Mencari titik temu melalui inovasi hijau yang tetap memiliki nilai ekonomi tanpa melanggar prinsip lingkungan.

    10. Teknologi vs Perilaku: Teknologi adalah alat bantu, namun perilaku manusia adalah penentu utama keberhasilan perbaikan lingkungan.

    ReplyDelete
  19. Jawaban Pertanyaan Pemantik
    1. Apakah mungkin perusahaan 100% etis?
    Sulit untuk 100%, tetapi perusahaan dapat terus mendekati standar etis melalui transparansi, kepatuhan, dan perbaikan berkelanjutan.
    2. Siapa lebih bertanggung jawab atas sampah plastik?
    Keduanya. Konsumen bertanggung jawab atas penggunaan, sementara insinyur desain bertanggung jawab pada pilihan material dan desain ramah lingkungan.
    3. Mengapa etika dianggap beban daya saing?
    Karena sering dikaitkan dengan biaya tambahan dan keuntungan jangka pendek yang lebih kecil.
    4. Bagaimana LCA membantu keputusan etis?
    LCA menunjukkan dampak lingkungan sepanjang siklus hidup produk sehingga keputusan lebih berbasis data dan tanggung jawab.
    5. Apakah industri jasa bisa berkontribusi?
    Bisa, melalui efisiensi energi, digitalisasi, dan pengurangan jejak karbon operasional.
    6. Dampak moral jika insinyur diam terhadap pencemaran?
    Insinyur ikut bertanggung jawab secara etis karena mengabaikan keselamatan lingkungan dan masyarakat.
    7. Peran digitalisasi dalam ekonomi sirkular?
    Mempermudah pelacakan material, efisiensi proses, dan optimalisasi daur ulang.
    8. Pentingnya pendidikan etika bagi mahasiswa TI?
    Agar mampu mengambil keputusan teknis yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
    9. Apakah keuntungan dan lingkungan selalu bertentangan?
    Tidak selalu. Inovasi hijau justru bisa menciptakan efisiensi dan keuntungan jangka panjang.
    10 Peran generasi muda dalam transparansi etika?
    Menuntut keterbukaan melalui media sosial, pilihan konsumsi, dan advokasi berkelanjutan.

    VIII. Jawaban Pertanyaan Reflektif
    1. Jika diminta mendesain produk murah tapi merusak lingkungan
    Saya akan mencari alternatif desain atau material yang lebih ramah lingkungan meskipun perlu kompromi biaya.
    2. Pandangan tentang hak generasi mendatang
    Generasi mendatang berhak atas lingkungan yang layak, sehingga eksploitasi saat ini harus dibatasi.
    3. Tanggung jawab atas jejak karbon pribadi
    Saya merasa bertanggung jawab dan berusaha menguranginya melalui penggunaan yang bijak.
    4. Regulasi vs kesadaran individu
    Keduanya penting; regulasi mengikat, kesadaran membentuk perilaku jangka panjang.
    5. Prioritas tahun pertama sebagai direktur keberlanjutan
    Audit lingkungan, efisiensi energi, dan membangun budaya keberlanjutan perusahaan.
    6. Perasaan mengetahui produk hasil eksploitasi
    Merasa bersalah dan terdorong untuk lebih selektif dalam membeli produk.
    7. Kesediaan membayar lebih untuk produk etis
    Bersedia, selama harga masih rasional dan manfaatnya jelas.
    8. Warisan profesional sebagai insinyur
    Kontribusi pada solusi yang efisien, etis, dan berkelanjutan.
    9. Menyeimbangkan ekonomi keluarga dan etika lingkungan
    Mengupayakan solusi internal tanpa mengorbankan prinsip utama.
    10. Teknologi atau perilaku sebagai solusi lingkungan?
    Keduanya saling melengkapi; teknologi tanpa perubahan perilaku tidak akan efektif.

    ReplyDelete
  20. A-04
    Wahyu Ajie Saputra (41623010029)
    Pertanyaan pematik
    1.Menurut saya sulit dicapai karena sistem global yang rumit, tapi perusahaan tetap harus berusaha bertindak seetis mungkin.
    2.Insinyur desain lebih bertanggung jawab karena mereka menentukan bahan dan kemasan sejak awal.
    3.Karena etika sering menambah biaya dan tidak langsung menghasilkan keuntungan jangka pendek.
    4.LCA membantu insinyur memahami dampak lingkungan dari setiap keputusan desain agar lebih bertanggung jawab.
    5.Bisa, lewat efisiensi energi, digitalisasi, dan mendorong perilaku ramah lingkungan.
    6.Secara moral salah, karena berarti membiarkan kerusakan dan melanggar tanggung jawab profesi.
    7. Digitalisasi mempercepat daur ulang dan efisiensi sumber daya melalui data dan teknologi.
    8.Agar mahasiswa teknik industri peka terhadap dampak sosial dan lingkungan dari keputusan teknis.
    9. Tidak selalu bertentangan; inovasi hijau bisa menguntungkan dan berkelanjutan sekaligus.
    10.Generasi muda menekan produsen lewat pilihan konsumsi dan tuntutan transparansi etika.

    Pertanyaan reflektif
    1.Saya akan mencoba menawarkan alternatif desain yang lebih ramah lingkungan meskipun sedikit lebih mahal, serta menjelaskan risiko jangka panjang jika tetap memilih opsi yang merusak.
    2.Menurut saya, generasi mendatang berhak menikmati sumber daya yang sama, sehingga generasi sekarang wajib menggunakannya secara bijak.
    3.Saya merasa tetap bertanggung jawab, meskipun tidak sepenuhnya, dengan cara menggunakan perangkat secara bijak dan memperpanjang masa pakainya.
    4.Saya menilai regulasi lebih efektif untuk memastikan kepatuhan, tetapi kesadaran etika individu penting agar perubahan benar-benar berkelanjutan.
    5.Prioritas utama saya adalah memetakan dampak lingkungan perusahaan dan memperbaiki proses yang paling merusak.
    6.Saya akan merasa bersalah dan kecewa, serta berusaha menghindari produk tersebut di masa depan.
    7.Saya bersedia membayar lebih, selama harganya masih wajar dan manfaat etisnya jelas.
    8.Saya ingin dikenang sebagai insinyur yang bertanggung jawab dan peduli terhadap manusia serta lingkungan.
    9.Saya akan mencari solusi kerja yang tetap berpenghasilan layak tanpa mengorbankan prinsip etika lingkungan.
    10.Menurut saya, teknologi penting, tetapi perubahan perilaku manusia tetap menjadi kunci utama.

    ReplyDelete


  21. **Rizky Nur Fajri**
    **NIM: 41624010022**
    A18

    Jawaban Pemantik

    1. Sulit untuk mencapai 100% etis karena adanya perbedaan regulasi, budaya, dan standar lingkungan di setiap negara. Namun, upaya menuju praktik yang lebih etis tetap dapat dan harus terus diusahakan secara berkelanjutan.
    2. Tanggung jawab etika tidak hanya berada pada konsumen, tetapi juga pada perancang produk yang menentukan material, proses produksi, serta dampak lingkungan dari produk tersebut.
    3. Etika sering dianggap sebagai beban karena dapat meningkatkan biaya produksi dan membatasi efisiensi jangka pendek, meskipun sebenarnya memberikan manfaat jangka panjang.
    4. Life Cycle Assessment (LCA) membantu insinyur dalam memilih desain produk dengan dampak lingkungan paling rendah sepanjang siklus hidupnya.
    5. Ya, perusahaan dapat memperoleh keuntungan melalui efisiensi energi, pengurangan limbah, serta pengembangan layanan dan produk yang ramah lingkungan.
    6. Diam terhadap pelanggaran etika berarti turut melanggar tanggung jawab moral dan profesional sebagai seorang insinyur.
    7. Digitalisasi mempercepat proses pelacakan, meningkatkan efisiensi, serta mendukung pengelolaan dan daur ulang sumber daya secara lebih efektif.
    8. Karena insinyur industri memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan yang berdampak luas terhadap lingkungan, ekonomi, dan masyarakat.
    9. Tidak selalu, karena penerapan keberlanjutan justru dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan dalam jangka panjang.
    10. Generasi muda berperan penting dengan menekan produsen melalui konsumsi yang lebih sadar serta advokasi digital yang masif.

    Jawaban Reflektif

    1. Sebagai calon insinyur industri, saya akan mengusulkan alternatif desain atau penggunaan material yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan fungsi utama produk. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab profesional terhadap dampak jangka panjang suatu produk.

    2. Saya meyakini bahwa generasi mendatang memiliki hak atas lingkungan dan sumber daya yang berkelanjutan, sehingga keputusan yang diambil saat ini harus mempertimbangkan dampaknya bagi masa depan.

    3. Sebagai konsumen, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengurangi penggunaan berlebihan, memperpanjang umur pakai produk, serta memilih produk yang lebih berkelanjutan.

    4. Menurut saya, regulasi pemerintah dan etika individu harus berjalan beriringan. Regulasi memberikan batasan yang jelas, sementara etika individu memastikan kepatuhan tidak hanya karena kewajiban, tetapi juga kesadaran moral.

    5. Dalam dunia industri, fokus pada audit lingkungan dan efisiensi berkelanjutan sangat penting untuk memastikan proses produksi tetap optimal tanpa merusak lingkungan.

    6. Saya sering merasa bersalah ketika menyadari dampak negatif dari produk tertentu, sehingga hal tersebut mendorong saya untuk lebih selektif dan memilih produk yang memiliki nilai etika lebih baik.

    7. Saya bersedia membayar harga yang sedikit lebih mahal selama masih dalam batas wajar, apabila produk tersebut terbukti lebih ramah lingkungan dan diproduksi secara etis.

    8. Saya bercita-cita menjadi insinyur industri yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai etika dan keberlanjutan dalam setiap keputusan.

    9. Tantangan terbesar menurut saya adalah menyeimbangkan kebutuhan ekonomi perusahaan dengan solusi kerja yang tetap etis dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat.

    10. Teknologi memang sangat membantu dalam mewujudkan keberlanjutan, namun saya percaya bahwa perubahan perilaku manusia dan kesadaran kolektif merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilan jangka panjang

    ReplyDelete

Tugas Mandiri 15

Mind Map Karier Insinyur Beretika (Ethical Career Roadmap) 1. Tujuan Tugas Tugas ini bertujuan agar mahasiswa dapat: Merumuskan ...